Calender
March 2016
S M T W T F S
« Sep    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
Content
Archives
Attention

Untuk membaca cerita lebih lanjut, klik Read the rest of this entry »
yang terdapat di akhir cerita.

terima kasih telah mampir ke blog saya.

belum kering keringat yang bercucuran
belum sampai diri ini ke gubuk nan sepi
untain air dari atas langit bercucuran
membuat para pejalan menepi

suka duka ku alami sore ini
entah banyak hal yang kualami

lelah belum pergi dari tubuhku
untaian kata sudah terdengar dari mulut sang bunda
untaian kata penuh kasih sayang….

belum selesai mengingat untaian sang bunda
rangkaian nada handphone ku berdering
terpapar nama seseorang

menulis rangkaian kata dalam surat pendek
dengan nada tak biasanya ia memberikan ku untaian beberapa kisah
dan ternyata ku tersadar bahwa senja telah tenggelam

senja tenggelam dengan meninggalkan kebahagiaan dan kesedihan..
bahagia karena telah selamat sampai tujuan hingga para penghuni gubuk itu bersuka cita
sedih karena untaian kisah dari seseorang yang berkata bahwa aku ada seorang PEMBOHONG !!!

Kuadrat simpang siur sayup-sayup nirwana
Gugah asa untuk bercerita padamu
Menghiasi kerap malamku
Sanjungan pelipur lara deritaku

Nestapamu ingin terucap cepat
Kita tanggung bersama-sama
Aku takut kau menghilang
Sebentuk bayang-bayang

Doa hanya hantarkan maafku
Untuk dirimu seorang
Maafku selalu simpan rajutan
Rajutan hatiku untukmu

Sahabat …
Disaat ku senang kau ada
Disaat ku sedih kau menghiburku
Sahabat …
Disaat ini kau sangat baik
Disaat lain kau tak peduli
Sahabat …
Kau dan aku selalu bersama
Berbagi suka dan duka
Sahabat …
Tak peduli badai dan topan
Asalkan kita selalu bersama
Sahabat …
Memang kita akan berpisah
Namun semoga persahabatan kita
Akan menjadi persahabatan baik
Selamanya …

Setiap detik dan menit ku selalu membayangkanmu
Setiap ku melangkah, ku seprti melangkah denganmu
Ada apa dengan pikiranku?
Kekaguman akan pancaran sinar wajahmu
Tak kan terlupakan dipikiran ku
Kecantikanmu, membuatku bersemangat untuk jalani hidup ini
Hidup ini terasa indah
Bahagia selalu terasa di hati saat melihatmu
Seakan nafasku sesak saat kau tersenyum padaku
Mulutku tak berdaya saat berbicara denganmu
Kau memang inspirasiku
Yang selalu menemaniku dalam melewati hari ini
Inspirasi yang kupendam dihati
Karena ku tak memiliki keberanian
Untuk mengatakan bahwa kau
Inspirasiku …

Mentari belum bersinar saat kau tersadar
Bulan belum terganti mentari saat kau terjaga pagi ini
Kemacetan yang kau hadapi tiap pagi,
Adalah tradisi yang biasa kau temui
Bel sekolah telah berbunyi, tanda waktu belajar dimulai
Tak sedikit orang mengira menjadi pelajar
Amatlah berat dan sukar
Tetapi semua itu tak kan terasa
Jika jalani hidup ini dengan bahagia
Belajar demi prestasi
Kau hadapi dengan wajah berseri
Ibu pertiwi mengaharapkan pelajar sepertimu
Pelajar yang akan meneruskan cita-cita leluhur kami
Kau harus berjuang demi kemajuan bangsa
Tumpaslah kebodohan

Kau muncul dengan indah di ufuk timur
Membangunkan kami dari alam mimpi
Membuat kami memulai hari ini dengan penuh semangat
Cahaya mu yang semakin terang menandakan pagi berganti siang
Sinar mu memberika n kehangatan
Dirimu menjadi penerang bagi kami
Di kala hujan, Sinarmu tertutup awan hitam
Hujan turun rintik-rintik
Kami kedinginan tanpa mu
Mentari …
Hidup menjadi suram tanpa mu
Semangat hilang sekejap
Malas perlahan menghampiri
Mentari …
Munculah kembali
Terangi kami dari kegelapan ini
Kembalikan semangat kami
Kaulah segalanya bagi kami

Cerita inspirasi ini saya tulis berdasarkan pengalaman hidup saya. Perkenalkan nama saya Yudha Jati Wiratmoko. Saya adalah seorang mahasiswa baru di suatu institut pertanian yang terbaik di Indonesia, Institut Pertanian Bogor. Saya mengambil jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.

Kisah ini terjadi pada saat saya masih duduk dikelas 3 SMA. Saya bersekolah di SMAN 9 Bekasi, SMA rintisan nasional. Di sekolah, saya bisa dibilang anak yang supel dan mudah berteman dengan siapa saja. Banyak teman-teman saya yang perilakunya kurang baik sewaktu duduk di kelas 2 SMA. Tetapi saat mereka duduk di kelas 3 SMA, banyak yang mengalami perubahan. Yang awalnya suka meninggalkan pelajaran kini hampir tidak meninggalkan pelajaran, yang suka bolos, kini sudah mulai giat masuk sekolah.

Jelas saja, kelas 3 SMA merupakan kelas terakhir yang menentukan masa depan kami semua sekaligus kelas untuk mengulas semua pelajaran di kelas 1 dan 2 SMA. Ujian Nasional merupakan momok yang sangat menakutkan bagi kami semua. Bagaimana tidak, waktu kami selama tiga tahun sekolah di SMA hanya di tentukan oleh soal-soal dalam waktu 5 hari. Sungguh sangat membuat kami ketakutan walaupun ada ujian mengulang pada bulan Mei.

Saya akan menceriatakan pengalaman saya waktu di kelas 3 SMA. Teman-temanku selalu gelisah saat diberitahu tentang ujian. Beberapa mata pelajaran yang paling ditakuti akrena tingkat kegagalan yang besar adalah fisika dan Bahasa Indonesia. Mengapa Fisika dengan Bahasa Indonesia? Fisika adalah salah satu cabang Ilmu Pengetahuan Alam yang harus menuntut seseorang untuk memahami suatu masalah yang ditanyakan dan dapat membuat konsep masalahnya sekaligus memasukkan data kedalam rumus awal maupun rumus turunan. Walaupun mereka hafal akan rumus dan mahir dalam penghitungan, tetapi mereka kesulitan dalam pemahaman konsep dan melaah suatu masalah yang membuat data akhir mengalami kesalahan sedangkan Bahasa Indonesia merupakan pelajaran yang biasa diremehkan oleh para pelajar karena kita sehari-hari menggunakan bahasa indonesia. Buat apa kita harus belajar keras untuk menghadapi ujian Bahasa Indonesia. Itulah yang membuat nilai ujian Bahasa Indonesia rendah dan bahkan mengalami kegagalan dalam mata pelajaran ini.

Suatu hari ada seorang teman saya yang menangis di depan saya untuk diajarkan fisika lebih dalam agar dapat lulus dan tidak mengalami kegagalan dalam mata pelajaran fisika. Maklum, saya bisa dibilang siswa yang begitu menyukai pelajaran fisika, perlu diingat saya hanya menyukai dan tidak begitu pandai. Saya pernah menjadi perwakilan sekolah untuk mengikuti Olimpiade Sains tingkat kota pada tahun 2008 untuk mata pelajaran fisika. Untuk menjadi perwakilan saya harus bersaing dengan kakak kelas saya yang duduk di kelas 2 SNA,waktu itu saya masih kelas 1 SMA. Mungkin hari keberuntungan saya, saya mendapat kesempatan mewakili sekolah saya ditemani dengan 4 orang kakak kelas saya (perwakilan sekolah 5 peserta tiap mata pelajaran). Tetapi mengalami kegagalan. Pada tahun 2009 saya diberi kesempatan untuk mengikuti olimpide sains lagi. Awalnya saya menolak karena saya sudah gagal pada olimpiade tahun lalu. Setelah mendapat omelan dan singgungan dari wali kelas, saya mengikuti olimpiade yang kedua dan saya gagal. Dua kali saya gagal membawa nama baik sekolah. Tetapi sejak saat itu teman-teman banyak menyangka bahwa saya pandai dalam hal fisika.

Read the rest of this entry »

Matahari masih bersembunyi belum menampakkan sinarnya dan embun pagi menyelimuti kampung yang sunyi ini ketika aku baru saja tiba di kampung halaman orang tuaku di daerah Klaten. Sekilas dari dalam mobil yang ku pergunakan, tampak seorang lelaki sedang mencabuti rumput gajah di tepian sawah untuk pakan ternak dengan cekatan. Lelaki itu ternyata teman baikku sejak aku masih kecil dan ia adalah teman yang pertama akan ku temui ketika aku mudik. Ia bernama Agus. Ia berumur 18 tahun dan merupakan mahasiswa baru di sebuah perguruan tinggi di Klaten. Saya sangat tertarik untuk menjadikannya sebagai kisah inspirasi. Kenapa tidak? Entah aku yang terlena dengan keadaan ku yang serba berkecukupan atau memang aku saja yang malas. Yang jelas semua terlahir karena kebiasaan. Agus adalah anak kedua dari 3 bersaudara. Kedua orang tuanya adalah seorang petani. Kadang ibunya berjualan bunga di pasar yang jaraknya lumayan jauh dari rumahnya. Kakaknya bernama Agung. Sarjana lulusan 2007 jurusan matematika sedang magang di sebuah sekolah menengah pertama di daerah Klaten kota. Tapi terkadang untuk membantu ekonomi keluarganya, tak malu ia harus berjualan kopi dan makanan ringan di alun-alun Kota Klaten. Sekarang saya akan banyak bercerita mengenai temanku yang bernama Agus. Siapa yang tak kenal dengan lelaki yang bernama Agus di kampung halamanku. Lelaki yang terkenal dengan keuletannya,  kerajinannya, dan kepandaiannya. Pagi-pagi gelap seperti ini, ia sudah pergi ke sawah mencari rumput gajah untuk pakan ternak. Setelah itu, ia kembali pulang dan menyiapkan makanan untuk adiknya yang masih belita karena pagi-pagi sekali ayah dan ibunya sudah pergi ke sawah. Hampir semua pekerjaan rumah ia yang mengerjakan dari mencuci, memasak, dan membersihkan rumah ia yang mengerjakan. Setelah pekerjaan rumahnnya telah selesai, ia pun berangkat kuliah menggunakan sepeda yang jaraknya sekitar 10 kilometer. Bisa anda bayangkan bukan? Sore hari sekitar waktu solat ashar ia sudah sampai di rumah. Ia langsung bergegas menuju mesjid untuk menunaikan solat ashar. Di mesjid, anak kecil langsung menyambutnya dengan wajah yang bahagia dan ceria. Awalnya aku bingung. Betapa spesialnya temanku ini di mata masyarakat kampung halamanku. Setelah selesai solat, anak-anak kecil berlarian kecil menuju dirinya dengan membawa AL-quran. Aku baru mengerti, ternyata setelah selesai solat ashar ia mengajari anak-anak kecil mengaji. Ia tak pernah meminta uang sepeserpun untuk mengajari anak-anak kecil ini mengaji, karena sebagian besar masyarakat di kampung halamanku termasuk perekonomian menengah ke bawah. Mungkin karena sebab itulah ia tidak pernah meminta uang sepeserpun walaupun ia juga sangat membutuhkan uang. Waktu menjelang magrib ketika ia selesai mengajari anak-anak kecil mengaji. Kami pun tetap di mesjid sekaligus menanti waktu berbuka. Setelah selesai solat berjamaah, kami pun pulang bersama-bersama karena rumahnya bersebelahan dengan rumah kakekku. Tibanya di rumah ia langsung belajar dan mengerjakan tugas kuliah hingga waktu solat isya tiba. Karena sekarang masih di bulan suci Ramadhan, setelah menunaikan solat isya kami langsung  menunaikan solat tarawih. Malam ini aku berniat untuk menginap di rumahnya untuk mengetahui lebih jauh kegiatan sang mutiara desa ini. Pukul 21.00 keadaan kampungku sangat sepi, tapi berbeda dengan keadaan di rumah Agus. Ramai. Banyak anak-anak kecil yang menumpang belajar ataupun meminta ia untuk mengajarkan mengenai pekerjaan rumah yang di berikan oleh guru-guru mereka. Dengan sabar ia pun mengajari mereka bersama denganku. Hampir pukul 23.00 mereka pulang ke rumah masing-masing.
Read the rest of this entry »